Minggu, 16 Mei 2010

Menanti Jawaban Waktu

MENANTI JAWABAN WAKTU BY M@RCH OF ART 2002


'Kehadiran mu bagaikan mimpi yang mengimbas kembali memori indah yang penuh luka'. Arie tersenyum helihat kata-kata yang keluar dilayar internet pada filem layar lebar Malaysia yang berjudul 'Tragedi Oktober' yang pernah populer lebih kurang 10 tahun yang lalu. Miskipun tidak pernah menonton filem tersebut Arie dapat membayangkan plot percintaan indah yang berakhir ditengah jalan menjadi tema utama yang tersusun syahdu difilem tersebut.
''What a romantic words'. puji Arie.
Arie sangat menyukai kata-kata mutiara yang ada dalam iklan-iklan filem yang bertemakan percintaan meskipun dia sendiri mahasiswa fakultas teknik. Menurutnya kata mutiara mempunyai makna tersendiri, dan makna itu hanya dapat difahami pembaca jika dia benar-benar mengerti tujuan kata-kata tersebut.
Tanpa sadar Arie sudah dua jam berlayar disamudera internet melalui jendela dunia yang terdapat dilaptopnya, dia mengumpulkan berbagai data untuk penelitian skripsinya. kebosanan mula menerpa sesaat setelah itu, kantuk menyerang dengan tiba-tiba, tapi didinding jam baru menunjukkan pukul 20.35, jam didinding itu seolah berkata bahwa masih terlalu awal untuk berlayar disamudera mimpi. jam itu seakan-akan mengejeknya, jam itu seolah-olah tertawa dalam kebisuan mentertawakan kebosanannya.

Sambil penelitian Arie juga menjadi asisten dosen difakultas teknik.Dr. Zelkar memberi kepercayaan pada Arie mengajarkan matakuliah yangdiampunya. Selama ini Arie memang dikenal sebagai mahasiswa berprestasi yang mungkin mahasiswa pertama dijurusan teknik elektronika yang akan cumlaude. Setelah mengajar pagi itu Arie lansung ke prodi elektronika bagi menemui Dr. Adnan pembing l skripsinya sekaligus ketua prodi teknik elektronika. Rupanya diruangan tersebut ada seorang tamu perempuan sepertinya juga seorang mahasiswa.
'Arie kenalkan ini Fenie dari jurusan sastra Inggris.' kata Dr. Adnan.
Fenie kaget melihat wajah Arie yang mirip Pangeran William of Wales. Putra Sulung Pangeran Charles yang suatu hari nanti akan bergelar The King of England cuma bedanya Arie beramput hitam pekat dibanding William yang memiliki rambut pirang pasir. Fenie hanya tersenyum kearah Arie tanpa bicara dan dibalas Arie dengan cara yang sama.
'Arie ayo kenalkan ini Fenie. Jabat tangan dong Rie'. gurau Dr. Adnan
'Harry Ferdianshah'. kata Arie sambil menghulurkan tangan dan tersenyum, sorot mata Arie yang tajam benar-benar mirip Pangeran William.
'Fenie Novita' Balas Fenie sambil menjabat tangan Arie.
'Fenie mengajar diteknik elektronika dalam MTK bahasa Ingris teknik. Dia asisten bapak Syafie Arsyad. M.A kebetulan dia mengajar diloka yang sama denganmu Rie, lokal semester IV.B. kata Dr. Adnan.
'Welcome to this faculty Miss Fenie'. kata Arie
'Thanks, well just call me by my first name, Fenie. balas Fenie.
Fenie merasa seolah sedang berbicara dengan calon Raja Inggris Pangeran William.
'By the way, Sekarang Fenie sudah semester berapa? tanya Arie kalem.
'Semester VIII, InsyaAllah September nanti wisuda, Mr. Harry sendiri semester berapa?. Balas Fenie.
'Just call me by my nick name Arie. saya semester VIII juga. Sekarang sedang penelitian. kata Arie.
'maaf ya Arie lain kali kita sambung lagi, saya mau kekelas sekarang. kata Fenie sambil melihat jam tanganya.
'Ok...bye! kata Arie
'Arie dia itu Fenie yang diisukan pernah dilamar pak Edry semester kemaren. kata Dr. Adnan.

'Dia pak? saya pernah mendengar isu pak Edry ingin menikah dengan mahasiswa Sastra Inggris. tapi saya tidak tahu yang mana orangnya! kata Arie
'Itukan dulu, sekarang pak Edry sudah pada nikah karena Fenie menolaknya. Kata Dr. Adnan.
Arie tersenyum mendengar jawaban Dr. Adnan. Kebetulan Arie mengajar dihari yang sama dengan Fenie untuk seterusnya. Sejak bertemu Fenie waktu itu Arie jadi penasaran. Menurut Arie, Fenie terkesan misterius dan bicara seadanya. Arie dapat membayangkan dari karakter Fenie sudah cukup menggambarkan dia bukan perempuan yang gampang didekati. Dia tahu untuk mendekati orang seperti Fenie membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Setelah seminggu perkenalan Arie dan Fenie baru berani bertukar nomor telpon. Arie menghubungi Fenie buat pertama kali ketika Fenie berada di prodi elektronika. Seperti biasa Fenie menjawab seadanya. Jawaban ringkas yang memberi kesan harmonis yang menusuk kelubuk hati sehingga tanpa sadar seiring berjalannya waktu Arie sentiasa membayangkan
Fenie, menelpon bahkan mencari waktu berbicara dengan Fenie. Fenie disisi lain juga menimbulkan hal yang sama. Dalam diam Fenie kadang-kadang melirik kearah Arie, ketika Arie berbicara dengan mahasiswa perempuan Fenie bahkan memandang Arie setiap saat sehingga
timbullah debaran yang tidak diundang dihati Arie.
Arie menjadi sangat bingung, kadang-kadang dia bertanya apakah Fenie menyukainya? apakah ada sesuatu padanya yang menggugah hati Fenie? Dia tidak mengerti dengan tingkah asisten bahasa inggris itu. Sebaliknya Arie sangat menyadari dihatinya sudah terukir indah nama Fenie Novita, kadang-kadang Fenie Novita Ferdiansyah. Satu perasaan yang membingungkan jiwanya. Kebingungan yang menjadi teman setianya dimanapun ia berada, namun dia tidak mengerti apakah Fenie juga merasakan hal yang sama? dia tidak mengerti. Arie tidak mengerti gerak-gerik Fenie, setiap kali melihat Arie, Fenie pasti akan tersenyum dan mengangkat tangannya. Ketika Arie dan teman-temannya ke jurusan bahasa Inggris, Fenie buru-buru menemuinya dan menanyakan ada apa bahkan Fenie menawarkan pertolongannya.
'Fenie aku tidak menyangka akan mengenalimu'? kata Arie.
Perkenalan dengan Fenie memang menggoncang jiwa Arie, terutama sikap misterius Fenie yang menimbulkan tanda tanya antara perasaan cinta dan persahabatan. Arie sering menceritakan Fenie pada teman-temannya sehingga teman-temannya menjadi penasaran terhadap seseorang yang bernama Fenie.
'Kalau seperti itu aku rasa Fenie memeng mencintaimu Rie hanya dia tidak bisa mengatakannya. Kata John teman kuliah Arie.
'Apa benar John? kamu jangan bercanda. Aku rasa itu tidak mungkin John. Gak mungkin banget. kamu tahu nggak siapa yang melamarnya? Dosen kita itu lho bapak Edry. kata Arie
'Arie setahu aku Fenie itu bukan tepe cewek yang mengutamakan harta dan kedudukan. buktinya dia menolak lamaran bapak Edry. Kalau memang dia materialistik, dia pasti sudah menerima lamaran pak Edry. apa kurangnya pak Edry masih muda sudah bergelar Dosen lagi, iyakan? kata John memberi semangat.
'Iya sih John, kalau iyapun begitu apa Fenie mau sama aku yang masih bergelar mahasiswa? keluh Arie
'ingat Rie, Love just comes once, jadi jangan disia-siakan! kata John. Arie hanya tersenyum, dia tahu dihatinya dia sangat mencintai Fenie. Nama Fenie menyala dihatinya bagaikan api yang disiram minyak yang tak terpadam oleh selautan air, tapi Arie tidak bisa mengatakannya. Arie hanya menunggu saat yang tepat, mungkin dia menunggu waktu yang mengatakan rasa cintanya terhadap Fenie Novita.

Malam minggu telah tiba, Arie bingung apakah dia harus menelpon Feniebertanya kabar misalnya? Dihati Fenie juga berdebar, seolah ada yang membisikkan kepadanya bahwa Arie akan menelponnya, seolah ada yang mengatakan padanya Arie akan menemuinya di kosnya. Ketika Fenie sedang dibuai khayal tiba-tiba telpon berdering,berdering dan berdering...tidak ada yang mengangkatnya, lalu Fenie keruang tamu didapati teman-teman kosnya tidak ada dirumah, hanya tinggal dia sendiri. Dibalik gorden jendela terlihat cahaya lilin yang menyala ditempat yang gelap di taman. Tiba-tiba telpon berdering lagi, jantung Fenie berdebar kencang. Di hati Fenie sudah terbayang Arie. Kemuadian
Fenie menjawab telpon dengan gementar dalam telpon itu terdengar.
'Miss Fenie, would U mind to open the door, please?
'A...A...Arie kau?kata Fenie gementar.
'Yes, Fenie. it's me! open the door please?
Fenie gementar, dia berkeringat. Dia tidak pernah merasakan gementar seperti ini sebelumnya. Kemudian Fenie berdiri membuka pintu. Ternyata benar itu Arie.
Arie berdiri didepan pintu memegang lilin dan kek black forrest.
'I just want so say happy birthday Miss Fenie Novita. Kata Arie
Fenie hanya terdiam memandang Arie. Dia melihat betapa romantisnya
Arie, dia begitu sopan, seperti pangeran England yang pemalu itu Prince William of Wales.
'Fenie I want to tell U something from the bottom of my heart that I
really....kata Arie sambil terdiam menatap mata Fenie. l
really....kata Arie.
Ketika Arie ingin mengulangnya kali ketiga tiba-tiba HP Fenie berdering, Fenie terbangun kaget, dia baru sadar ternyata dia bermimpi. Mimpi romantis yang penuh misteri. Mimpi sang pangeran yang menimbulkan seribu tanya. Dia melihat Hp ternyata Arie yang menelpon.
Dia menjadi bertambah kaget, lalu dia segera menjawab.
'Assalamualaikum.' kata Arie
'Walaikumsalam'. balas Fenie
'Kamu sehat-sehat saja Fen? tanya Arie, dia sepertinya mengetahui
Fenie agak sedikit berdebar.
'lya Arie, aku sehat-sehat saja. Tadi aku baru bangun tidur. Ada apa
Rie! kata Fenie gementar.
'Aku mau ngundang kamu untuk hadir diseminarku besok jam 9.30 diruang seminar fakultas teknik bisa kan?Tanya Arie
'Iya aku pasti datang tepat waktu, menemanin....? tiba-tiba Fenie
terdiam salah bicara kemudian dia membalas.
'InsyaAllah ya Rie kalau sempat'. katanya meralat
'Hmm...aku tunggu besok ok? kata Arie sambil tersenyum. Arie tahu Fenie salah bicara, dan kesalahan itu menjadi tanda tanya besar dihatinya.
Setelah menutup telpon Fenie kebingungan. Bingung terhadap mimpinya dan bingung terhadap apa yang dikatakannya pada Arie. Lima menit setelah itu sms masuk ke hp Fenie, sebuah sms dari Arie yang berbunyi.
'jangan lupa tahajjud Fen, wassalam Arie'
Fenie terdiam dan menghela nafas dia lansung membalas, tapi sayang waktu itu dia tdak mempunyai cukup pulsa dan sms itu tersimpan didraft.
Besoknya Arie seminar hasil penelitian, setelah seminar Arie melihat kiri kanan ternyata Fenie tidak kelihatan. Teman Arie satu persatu memberi ucapan selamat padanya, Fenie juga belum datang kemudian semua pergi ternyata Fenie tidak datang. Arie kecewa, dia benar-benar
mengharapkan kedatangan Fenie begitu juga Fenie dia benar-benar berharap bisa datang diseminar Arie, tapi Fenie agak malu terhadap teman-teman Arie terutama mahasiswi teknik yang tomboy.#
setelah seminar selesai Arie belum pergi dia duduk sambil menarik nafas panjang dengan mata yang terpejam. Saat dia membuka mata tiba-tiba Fenie sudah ada didepan matanya. Belum sempat mereka bicara tiba-tiba Dr.Adnan lewat dia memberitahu Fenie yang bapak Syafie Arsyad mencarinya, Fenie lansung pergi setelah mengucapkan selamat pada Arie. Emosi membakar jiwa Arie dengan seribu tanya, pertanyaan yang tak terungkapkan tentang perasaan Fenie terhadapnya dan perasaannya terhadap Fenie. Semuanya berkobar dengan suhu yang amat tinggi. Hari demi hari perasaannya semakin berkobar, dia melihat setiap hari Fenie memberikan respon yang positif. Kemudian keakraban merekapun mula terjalin. Fenie meskipun agak ragu dia sudah mula terbuka sedikit demi sedikit pada Arie, begitu juga Arie dari soal kuliah sampai soal masa depan lainnya.
Meskipun Arie sangat mencintai Fenie, dia tetap tidak mau mengungkapkannya. Kata-kata cinta dari Arie memang mahal, itu bukan berarti dia sombong tapi menurutnya cinta sejati itu lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Kata-kata itu tidak dapat diungkapkan dengan lidah karena lidah paling pintar berbohong. Cinta sejati hanya mampu ditampakkan oleh tindakan yang tulus dan ikhlas kemudian waktu akan mengungkap segalanya, itulah 'the true love'. Disolat malamnya Arie mengangkat tangan dan berdoa dia tidak pernah memaksakan kehendaknya
kepada Allah. Dia memohon kepada Allah agar hati Fenie dibukakan untuknya jika Fenie benar-benar cinta sejatinya dan jika dia benar-benar yang terbaik dan layak membahagiakan Fenie. Itulah pribadi Arie yang tersembunyi dibalik rumus elektronika.
Dipertengahan semester Ferdinal kembali dari penelitiannya di ITB.
Ferdinal juga seorang asisten difakultas teknik, dia teman baik Arie. Pada hari senin ketika mereka menemui Dr. Adnan, Arie memperkenalkan Ferdinal pada Fenie. Setelah perkenalan itu Ferdinal dalam diam-diam menaruh hari pada Fenie, tapi dia tidak tahu diwaktu yang sama Arie
juga mencintai Fenie. Ferdinal sering menelpon Fenie dan menemui Fenie difakultas sastra, hal ini sebenarnya sangat melukai Arie tapi sikap Arie yang profesional mampu menutupi semuanya. Arie tidak sedikitpun menampakkan rasa cemburunya pada Ferdinal. Sehingga Ferdinal berani mengatakan pada Arie dia mencintai Fenie dan dia ingin mengungkapkan
rasa cintanya pada Fenie sebelum wisuda agar Fenie bisa menjadi 'PW'nya saat wisuda

Arie merasa bagaikan disambar petir mendengarkan hal itu namun dia tetap profesional menghadapi semuanya, seolah-olah tidak ada yang terjadi antara dia, Fenie dan Ferdinal. Arie mampu menyembunyikan perasaannya terhadap siapa saja kecuali pada Allah dan pada Fenie
sendiri. Sebaliknya Ferdinal tidak mampu menutup rasa cintanya pada Fenie sehingga dalam waktu yang singkat hal itu telah diketahui teman-temannya. Ferdinal sering menelpon Arie menanyakan hal Fenie dan Arie memberitahu seadanya tanpa membohongi teman baiknya walaupun sedikit, namun setelah itu hubungan Arie dan Fenie tidak seperti dulu dan Arie tetap tidak menunjukkan ada kesan luka dihatinya pada Fenie. Begitu juga Fenie, dia tetap tidak menampakkan kesan-kesan curiga terhadap 'Prince William' tersebut.
Dua minggu berikutnya Fenie meminta cuti dari fakultas teknik karena beliau harus memberikan konsentrasi penuh pada penelitiannya. Selama dua bulan Arie dan Ferdinal tidak bertemu Fenie. Selama itu Arie tidak menghubungi Fenie karena Fenie sudah bertukar nomor hp, tapi sebaliknya komunikasi jarak jauh antara Ferdinal dan Fenie tetap berjalan. Ketika Arie duduk dipustaka sastra tiba-tiba Andy teman Arie jurusan sastra mengatakan pada Arie yang dia mendapat berita bahwa hari minggu nanti Fenie mengikat tali pertunangan dengan Khairul,
kakak tingkat Fenie yang kini bertugas sebagai dosen junior di fakultas sastra dan mereka akan menikah setelah Fenie wisuda september nanti. Arie sangat kaget mendengar hal itu, dia panik tidak karuan, antara percaya dan tidak percaya orang yang sangat dicintainya itu akan menjadi milik orang lain. Dia tidak dapat membayangkan perasaan Ferdinal tentang hal ini. Dia heran kenapa Fenie tidakmemberitahunya?apa yang terjadi?
Pada pagi senin Ferdinal menelpon. Dia menanyakan pada Arie apakah benar Fenie akan bertunangan dan kapankah pertunangan itu dilansungkan? Arie sangat terkejut, rupanya Ferdinal juga tidak tahu hal ini, kemudian dengan berat hati Arie memberitahu teman baiknya itu bahwa Fenie telah bertunang kemaren.

Ferdinal sangat terkejut. Dua minggu berikutnya mereka wisuda. Arie melihat Fenie dari kejauhan kemudian dia tersenyum sendiri, kemudian dia melihat Ferdinal yang tidak sanggup menatap Fenie dan melihat teman-temannya yang lain yang sudah mengetahui yang terjadi antara Ferdinal dan Fenie. Arie hanya tersenyum, dia mengerti semua ini tidak lebih dari ujian Allah. Allah memberi ujian pada hambanya yang mampu menerimanya.
Memang benar seminggu setelah wisuda mereka menerima undangan resepsi pernikahan Fenie yang akan diadakan pada hari minggu, Arie, Ferdinal dan teman mereka yang lain hadir dihari persandingan Fenie. Arie hanya tersenyum saat bersalaman dengan Fenie, sebaliknya Ferdinal memang tidak mampu menyembunyikan perasaannya apalagi teman-temannya sudah
mengetahui rasa cintanya. Dia benar-benar terluka, hatinya benar-benar teriris. Dua minggu setelah itu Ferdinal pamit, dia mau ke Jakarta mencari pekerjaan dan dia tidak akan bertemu lagi dengan Fenie setelah persandingan Fenie, tapi dia tetap akan mengenang memori lukanya
dengan Fenie.
Tapi Arie diterima menjadi CPNS dosen disatu perguruan tinggi dengan Fenie. Disitu Arie bertemu lagi dengan Fenie, namun dia menyadari Fenie bukanlah Fenie yang dikenalinya enam bulan yang lalu sebagai Miss Fenie, tapi sekarang dia adalah Mrs. Fenie. Namum suara hari
tidak bisa berbohong, setiap kali melihat Fenie pasti ada getaran yang timbul dihati Arie dan setiap kali itulah dia merasakan luka yang paling dalam dihatinya. Begitu juga dengan Fenie setiap kali bertemu Arie dia pasti cepat-cepat mengelak. Bagi Arie semua ini telah diatur
Allah, apa yang terjadi adalah keputusan Allah yang terbaik untuknya. Namun kepastian perasaan cintanya pada Fenie dan perasaan cinta Fenie terhadapnya tetap tidak terjawab olehnya melainkan menanti jawaban waktu.
TAMAT

Note:
It is my second work that I wrote when I was in the fourth semester I dedicate this works for my best friend Fenie Novalia, thank for lending your name for my fiction I always miss our days on theatre stage... if you have comment, critic, or suggession please send on my email daffodil.art@gmail.com
i'm sorry if the works are not well edited.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar